Saturday, January 19, 2019

PERUSAHAAN TAKSI BLUEBIRD


BAB I
PENDAHULUAN


1.1   LATAR BELAKANG

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiran-Nya, yang telah melimpahkan rahmat dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat selesaikan makalah mengenai Implementasi Sistem Informasi Manajemen terhadap Perusahaan.

Makalah ini sudah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan pertolongan dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang sudah ikut berkontribusi di dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari seutuhnya bahwa masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami terbuka untuk menerima segala masukan dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga
Akhir kata kami meminta semoga makalah tentang Implementasi Sistem Informasi Manajemen terhadap Perusahaan ini bisa memberi manfaat ataupun inspirasi pada pembaca.












Jakarta, 7 Oktober 2018





Penyusun
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PERUSAHAAN TAKSI  “BLUE BIRD
Blue Bird telah berkembang pesat dengan sekitar 12000 armada-nya yang  tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Kesuksesan yang diraih oleh Blue Bird ini tak lepas  dari upaya Blue Bird dalam memanfaatkan teknologi. Berawal sekitar tahun 1972, Blue Bird yang mengimplementasikan pertama kali di Indonesia sistem komunikasi radio  serta penggunaan argometer yang ketat untuk armada-armadanya. Jejak langkah Blue  Bird ini diikuti pula oleh perusahaan taksi lainnya yang beroperasi di Indonesia. Sekitar beberapa tahun terakhir ini Blue Bird sudah menggunakan teknologi GPS (Global  Positioning System). Selain digunakan untuk melacak posisi armada-armadanya, GPS  ini juga digunakan sarana berkomunikasi antara Blue Bird Group merupakan market leader dalam bisnis transportasi, Blue Bird  sudah menjadi brand yang kuat dan dikenal luas oleh masyarakat. Diawali dengan  armada 25 taksi pada tahun 1972, kini setelah lebih dari 30 tahun mendalami bisnis jasa  transportasiarmada taksi dengan Call Center.  

Berbeda dengan teknologi komunikasi radio yang terbatas pada komunikasi suara yang  sudah umum digunakan oleh operator-operator taksi, teknologi GPS ini mempermudah  operator dalam menentukan posisi konsumen dan armada mana yang dapat  menjangkaunya, sehingga pelayanan bisa dilakukan lebih cepat dan mengurangi antrean  pemesanan. Keunggulan lainnya, konsumen tidak perlu mendengarkan suara dari radio  komunikasi ketika ada pemesanan yang masuk ke pengemudi taksi.

2.2 PERKEMBANGAN
Perkembangan Blue Bird tidak cukup hanya di kota Jakarta dan sekitarnya saja,  melainkan di
kota-kota besar lain di Indonesia. Di Bali, sejak tahun 1989 Blue Bird  Group telah menempatkan armada Golden Bird-nya, yang diikuti dengan armada taksi  regular Bali Taksi pada tahun 1994. Kemudian berturut-turut pada tahun 1996 dan  1997, taksi regular memasuki Lombok dengan nama Lombok Taksi dan kota Surabaya  dengan nama Surabaya Taksi. Sekitar bulan November 2005, Blue Bird mulai  menjamah kota Bandung dengan 75 armada taksi regulernya. Meskipun dengan jumlah  armada yang masih sedikit, Bandung Taksi ini mendapatkan pertentangan yang cukup  keras dari operator-operator taksi lainnya di Bandung. Harus diakui jika reputasi dan  brand image yang telah diposisikan oleh Blue Bird Group, cukup menjadi ancaman  terhadap operator taksi lainnya.

Blue Bird pada saat ini meningkatkan diversifikasi  produknya ke jasa angkutan non-penumpang Blue Bird dengan menyediakan jasa Truk Container, yaitu Iron Bird dan Angkutan Kontenindo Antarmoda. Di luar usaha  transportasi primer, Blue Bird juga telah mendirikan Holiday Resort Lombok, dan perusahaan manufacture otomotif seperti Everlite, Restu Ibu, Ziegler Indonesia, serta  usaha service lain seperti Jasa Alam, Gas Biru, dan Ritra Konnas Freight Centre. Perusahaan transportasi Blue Bird berhasil mengimplemantasikan solusi  Business Intelligent (BI), yakni SAP NetWeaver Business Intelligent (SAP NetWeaver  BI).  Ini merupakan suatu solusi yang mengolah data mentah menjadi informasi  pendukung pengambilan keputusan perusahaan dan proses bisnis sehingga mampu  memberikan gambaran lengkap dari bisnis untuk memenuhi
kebutuhan yang berbeda  dari para pengguna, professional TI dan manajemen senior.

Solusi ini disediakan  melalui teknologi portal enterprise dan menyediakan kepada para penggunanya suatu infrastruktur andal, peralatan yang komprehensif, kemampuan untuk melakukan   perencanaan dan simulasi, serta fungsionalitas data-warehousing.

2.3 IMPLEMENTASI

Aplikasi Business  Intelligent diperlukan perusahaan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan  menyediakan akses ke data guna membantu penggunanya mengambil keputusan bisnis  secara akurat.  SAP (System Application and Product) adalah software ERP (Enterprise  Resources Planning), yaitu merupakan tools IT dan manajemen dalam membantu  pencanaan dan kebijakan perusahaan didalam mengambil keputusan, serta merupakan  software yang diimplementasikan untuk mendukung organisasi dalam menjalankan  kegiatan operasional secara lebih efisien dan efektif. SAP terdiri dari serangkaian modul  aplikasi yang mampu mendukung semua transaksi perusahaan. Semua modul dalam  aplikasi SAP dapat diintegrasikan secara terpadu antara satu dengan lainnya serta  memungkinkan ketersediaan data yang akurat dan aktual.  ERP merupakan suatu perangkat lunak yang didesain untuk memadukan proses  bisnis yang ada, pengunaan database perusahaan untuk menghasilkan informasi yang  valid. ERP dan Business Intelligence mempunyai keterkaitan, ERP merupakan sistem  yang menintegrasikan seluruh sistem yang ada dalam suatu perusahaan untuk  mendapatkan informasi yang benar dan digunakan untuk pengambilan keputusan.  

Proses implementasi Business Intelligent di Blue Bird Group dapat berjalan dengan baik  karena garis besar cakupan proyek dan indikator kinerja kunci perusahaan sangat jelas.  Di samping itu, proses implementasi secara hirarki dan dengan dukungan tenaga-tenaga  konsultan yang professional dan berkualitas juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses implementasi. Konsultan yang andal memahami bahwa pendekatan  dari bottom up untuk mengimplementasikan business intelligent akan membutuhkan  waktu yang panjang. Sedangkan metode top down merupakan metode yang tepat untuk  mengimplementasikan Business Intelligent.  Blue Bird Group mengimplementasikan SAP Netweaver BI untuk modul-modul  Financial Accounting (FI), Controlling (CO), CO Profitability Analysis (CO PA) Plant  Maintenance (PM), dan modul yang dirancang khusus yang dinamakan “Taximeter  System” dari legacy VB sistem perusahaan. Proses implementasi dilakukan oleh Hermis  consulting. Pada fase pertama, SAP NetWeaver BI “GO Live”.

Mengingat pertumbuhan  bisnis yang kian kompleks, Blue Bird Group mengimplementasikan SAP Business Suite, yang membantu perusahaan mengonsolidasikan operasional yang terdiri dari 28  cabang perusahaan, lebih dari 70 pool. Setelah itu, Blue Bird Group membutuhkan  suatu sistem yang mampu mengelola laporan-laporan yang dihasilkan SAP Business  Suite guna menjadi informasi akurat yang dapat diakses secara cepat dan tepat untuk  proses pembuatan keputusan. Blue Bird selanjutnya menginstal SAP NetWeaver BI  sebagai suatu solusi yang membantu perusahaan untuk mendapatkan manfaat yang  maksimal dari sistem SAP-nya. Melalui implementasi solusi tersebut, Blue Bird berkeinginan memiliki suatu solusi BI yang memberikan fungsionalitas
menyeluruh dan  terbaik, serta di saat yang bersamaan juga menyediakan fitur-fitur bagi kebutuhan   spesifik industri.

Disamping itu, solusi harus mampu mengintegrasikan data dari  berbagai perusahaan dan mentransformasikan ke dalam bentuk yang dapat dipraktekan,  informasi bisnis yang tepat waktu untuk mendorong proses pembuatan keputusan, serta  menghasilkan tindakan-tindakan yang strategis dan bisnis yang solid.  Kelompok usaha Blue Bird telah mengumumkan rampungnya  pengimplementasian solusi peranti lunak SAP dalam sistem Teknologi Informasi  mereka.
Sebagai perusahaan transportasi yang armadanya mencapai lebih dari 15.000  kendaraan, Blue Bird memerlukan solusi TI yang handal untuk memantau banyak hal  dalam operasionalnya sehari-harinya, Order pelanggan, kendaraan yang beroperasi dan yang dalam perawatan, sampai konsumsi bahan bakar, perlu terdata dengan baik.  Dengan tujuan integrasi dan akurasi data, solusi MySAP Business Suite dimanfaatkan  Blue Bird untuk menangani semua itu. MySAP Business Suite merupakan solusi peranti  lunak dengan fungsi luas.

Dengannya, Blue Bird dapat memonitor banyak informasi  penting secara mudah dan tepat waktu. Data tersebut akan tersedia sesuai dengan  informasi yang diperlukan oleh jajaran management untuk membuat keputusan secara  cepat. Ini tentu meningkatkan efisiensi perusahaan. Implementasi mySAP Business  Suite tersebut meliputi fungsi keuangan, controlling, sales & distribution, material  management dan fleet management.
Di samping itu, SAP secara khusus  mengembangkan dua fungsi lain untuk Blue Bird, yakni Driver Management dan  Operation & Reservation Management agar bisa disatukan dengan sistem mereka yang  berbasiskan Visual Basic. Implementasi SAP dapat membawa perubahan besar bagi  perusahaan ini. Dapat dibayangkan hanya dengan mengklik sebuah tombol, maka dapat  melihat visibilitas di seluruh operasional perusahaan.

Blue Bird Group merintis penggunaan MDT (Mobile Data Transfer) dan GPS  sebagai instrument pelengkap di taksinya. MDT mirip seperti pager, dimana setiap  informasi yang terkait dengan pengemudi akan tampil dilayarnya. MDT juga  merupakan alat penangkap order dalam radius 3-4 km untuk setiap order yang dilelang  via data komputer, sehingga tidak ada istilah lagi pengemudi berebut order atau  spekulasi posisi taksi yang terlalu jauh dari tempat jemput konsumen.

Pada saat ini 50%  lebih mobil-mobil Blue Bird sudah dilengkapi dengan teknologi global positioning  system (GPS) yang dapat memantau keberadaan mobil di jalan raya. Dengan alat ini  mobil dapat dilacak di manapun keberadaannya. Selain memudahkan para pengemudi,  penumpang juga merasa lebih terlindungi jika menggunakan Blue Bird.

Sampai saat ini  masih sedikit perusahaan taksi lainnya yang menggunakan GPS dikarenakan biayanya  sangat tinggi dan harga GPS per unit mobil adalah Rp 15 juta. Pihak manajemen merencanakan semua taksi Blue Bird akan dilengkapi dengan sistem GPS. Salah satu  strategi yang digunakan Blue Bird didalam memelihara loyalitas pelanggannya ialah  dengan menyediakan credit voucher yang tidak hanya untuk korporat saja, namun juga  untuk perorangan. Pihaknya juga hendak menyediakan tabel diskon tertentu. Pelanggan  yang loyal pada Blue Bird dengan
program ini akan dapat menggunakan taksi dengan  harga diskon, besarannya bervariasi antara 5%-15%.

Pada saat ini Blue Bird memiliki  pelanggan korporat lebih dari 650 perusahaan. Selama ini banyak masyarakat yang  mengenal Blue Bird memang bukan karena tarifnya yang murah, melainkan karena  nyaman, aman, berkualitas dan lain sebagainya. Sebagai langkah akhir, yang dapat  dilakukan Blue Bird untuk mempertahankan adalah dengan meningkatkan kualitas  layanan yang aman dan nyaman.

Untuk menjamin hal tersebut, pihak Blue Bird sering  menggunakan mistery shopper atau penumpang yang diminta untuk menguji sopir.  Seiring dengan itu, pelatihan bagi para pengemudi mengenai pentingnya layanan pun  terus digencarkan guna memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Basis usaha Blue  Bird terletak pada jasa transportasi, khususnya adalah taksi dan alat angkutan /  kendaraan. Secara langsung yang menjadi penggerak utama usaha ini adalah para  pengemudi-nya.
Selain berfungsi utama sebagai driver, pengemudi juga menjalankan  fungsi sebagai customer service dan sales force, karena mau tidak mau, para pengemudi  inilah yang akan berhadapan langsung dengan penumpang / customer. Para pengemudi  di Blue Bird dilatih secara khusus dalam berbagai tahapan training. Dari para pengemudi inilah image Blue Bird dibangun. Sehingga tidak heran bila masyarakat  mengenal Blue Bird karena para pengemudinya yang baik dan jujur.

















BAB 3
PERTANYAAN STUDI KASUS
                                            
3.1 KASUS
1.  Mengapa perusahaan manufaktur harus membangun produk yang pintar dan menyediakan jasa yang pintar ?Apa manfaat bisnis yang bisa diperoleh?
2. Teknologi Informasi apa yang digunakan oleh perusahaan dalam kasus ini untuk membangun produk pintar dan menyediakan layanan pintar? Komponen IT apa lagi yang dapat digunakan?
3.  Apa yang menjadi batasan bagi sebuah strategi produk dan layanan pintar?

3.2 PENYELESAIAN
1. 1.   Sebuah perusahaan, diperlukan adanya sistem informasi manajemen untuk mengatur arus kegiatan dan informasi dalam perusahaan yang bersangkutan. Dengan sistem informasi manajemen yang terorganisir, manajemen dapat mengambil keputusan yang tepat bagi perusahaan. Tanpa adanya sistem informasi yang baik, niscaya perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan bersaing dengan para kompetitornya. Beberapa tahun yang lalu,sistem informasi perusahaan mungkin masih dikembangkan secara sederhana. Sistem yang ada akan diatur dan dikembangkan sendiri oleh manajemen perusahaan.

Tetapi memasuki era globalisasi dimana teknologi menjadi salah satu komponen penting dalam kehidupan manusia, sistem informasi manajemen pun mengalami kemajuan. Mulai banyak perusahaan yang melirik sistem informasi manajemen berbasis TI untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Memang banyak manfaat dan kemudahan yang akan didapat, tidak hanya bagi pihak perusahaan, tapi juga untuk para customer yang melakukan hubungan dengan perusahaan.Telah dibuktikan bahwa penerapan TI pada perusahaan dapat meningkatkan kinerja dan performa, namun bukan berarti semua perusahaan serta  memutuskan untuk menggunakan SIM berbasis TI bagi perusahaan mereka. Masih ada juga perusahaan yang bertahan dengan sistem yang telah mereka miliki. Terlepas dari semua itu, dalam hal ini Perusahaan Taxi “Blue Bird”.

Teknologi GPS  mempermudah  operator dalam menentukan posisi konsumen dan armada mana yang dapat  menjangkaunya, sehingga pelayanan bisa dilakukan lebih cepat dan mengurangi antrean  pemesanan. Keunggulan lainnya, konsumen tidak perlu mendengarkan suara dari radio  komunikasi ketika ada pemesanan yang masuk ke pengemudi taksi.Perusahaan transportasi Blue Bird berhasil mengimplemantasikan solusi  Business Intelligent (BI), yakni SAP NetWeaver Business Intelligent (SAP NetWeaver  BI).  

Ini merupakan suatu solusi yang mengolah data mentah menjadi informasi  pendukung pengambilan keputusan perusahaan dan proses bisnis sehingga mampu  memberikan gambaran lengkap dari bisnis untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda  dari para pengguna, professional TI dan manajemen senior.
Solusi ini disediakan  melalui teknologi portal enterprise dan menyediakan kepada para penggunanya suatu infrastruktur andal, peralatan yang komprehensif, kemampuan untuk melakukan   perencanaan dan simulasi, serta fungsionalitas data-warehousing.Aplikasi Business  Intelligent diperlukan perusahaan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan  menyediakan akses ke data guna membantu penggunanya mengambil keputusan bisnis  secara akurat. 

SAP (System Application and Product) adalah software ERP (Enterprise  Resources Planning), yaitu merupakan tools IT dan manajemen dalam membantu  pencanaan dan kebijakan perusahaan didalam mengambil keputusan, serta merupakan  software yang diimplementasikan untuk mendukung organisasi dalam menjalankan  kegiatan operasional secara lebih efisien dan efektif. SAP terdiri dari serangkaian modul  aplikasi yang mampu mendukung semua transaksi perusahaan.

Semua modul dalam  aplikasi SAP dapat diintegrasikan secara terpadu antara satu dengan lainnya serta  memungkinkan ketersediaan data yang akurat dan aktual.  ERP merupakan suatu perangkat lunak yang didesain untuk memadukan proses  bisnis yang ada, pengunaan database perusahaan untuk menghasilkan informasi yang  valid. ERP dan Business Intelligence mempunyai keterkaitan, ERP merupakan sistem  yang menintegrasikan seluruh sistem yang ada dalam suatu perusahaan untuk  mendapatkan informasi yang benar dan digunakan untuk pengambilan keputusan. 

Proses implementasi secara hirarki dan dengan dukungan tenaga-tenaga  konsultan yang professional dan berkualitas juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses implementasi. Konsultan yang andal memahami bahwa pendekatan  dari bottom up untuk mengimplementasikan business intelligent akan membutuhkan  waktu yang panjang. Sedangkan metode top down merupakan metode yang tepat untuk  mengimplementasikan Business Intelligent.  Blue Bird Group mengimplementasikan SAP Netweaver BI untuk modul-modul  Financial Accounting (FI), Controlling (CO), CO Profitability Analysis (CO PA) Plant  Maintenance (PM), dan modul yang dirancang khusus yang dinamakan “Taximeter  System” dari legacy VB sistem perusahaan. Proses implementasi dilakukan oleh Hermis  consulting. Pada fase pertama, SAP NetWeaver BI “GO Live”.

2. 1.   Blue Bird selanjutnya menginstal SAP NetWeaver BI  sebagai suatu solusi yang membantu perusahaan untuk mendapatkan manfaat yang  maksimal dari sistem SAP-nya. Melalui implementasi solusi tersebut, Blue Bird berkeinginan memiliki
3. 1.   suatu solusi BI yang memberikan fungsionalitas menyeluruh dan  terbaik, serta di saat yang bersamaan juga menyediakan fitur-fitur bagi kebutuhan   spesifik industri.

Dengan tujuan integrasi dan akurasi data, solusi MySAP Business Suite dimanfaatkan  Blue Bird untuk menangani semua itu. MySAP Business Suite merupakan solusi peranti  lunak dengan fungsi luas. Dengannya, Blue Bird dapat memonitor banyak informasi  penting secara mudah dan tepat waktu.

Data tersebut akan tersedia sesuai dengan  informasi yang diperlukan oleh jajaran management untuk membuat keputusan secara  cepat. Ini tentu meningkatkan efisiensi perusahaan. Implementasi mySAP Business  Suite tersebut meliputi fungsi keuangan, controlling, sales & distribution, material  management dan fleet management.Di samping itu, SAP secara khusus  mengembangkan dua fungsi lain untuk Blue Bird, yakni Driver Management dan  Operation & Reservation Management agar bisa disatukan dengan sistem mereka yang  berbasiskan Visual Basic.

Implementasi SAP dapat membawa perubahan besar bagi  perusahaan ini. Dapat dibayangkan hanya dengan mengklik sebuah tombol, maka dapat  melihat visibilitas di seluruh operasional perusahaan. Blue Bird Group merintis penggunaan MDT (Mobile Data Transfer) dan GPS  sebagai instrument pelengkap di taksinya. MDT mirip seperti pager, dimana setiap  informasi yang terkait dengan pengemudi akan tampil dilayarnya. MDT juga  merupakan alat penangkap order dalam radius 3-4 km untuk setiap order yang dilelang  via data komputer, sehingga tidak ada istilah lagi pengemudi berebut order atau  spekulasi posisi taksi yang terlalu jauh dari tempat jemput konsumen. Pada saat ini 50%  lebih mobil-mobil Blue Bird sudah dilengkapi dengan teknologi global positioning  system (GPS) yang dapat memantau keberadaan mobil di jalan raya. Dengan alat ini  mobil dapat dilacak di manapun keberadaannya. Selain memudahkan para pengemudi,  penumpang juga merasa lebih terlindungi jika menggunakan Blue Bird. Salah satu  strategi yang digunakan Blue Bird didalam memelihara loyalitas pelanggannya ialah  dengan menyediakan credit voucher yang tidak hanya untuk korporat saja, namun juga  untuk perorangan. Pihaknya juga hendak menyediakan tabel diskon tertentu.

4. 1.   Pada saat ini Blue Bird memiliki  pelanggan korporat lebih dari 650 perusahaan. Selama ini banyak masyarakat yang  mengenal Blue Bird memang bukan karena tarifnya yang murah, melainkan karena  nyaman, aman, berkualitas dan lain sebagainyaSebagai langkah akhir, yang dapat  dilakukan Blue Bird untuk mempertahankan adalah dengan meningkatkan kualitas  layanan yang aman dan nyaman. 

Untuk menjamin hal tersebut, pihak Blue Bird sering  menggunakan mistery shopper atau penumpang yang
diminta untuk menguji sopir.  Seiring dengan itu, pelatihan bagi para pengemudi mengenai pentingnya layanan pun  terus digencarkan guna memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Basis usaha Blue  Bird terletak pada jasa transportasi, khususnya adalah taksi dan alat angkutan /  kendaraan. Secara langsung yang menjadi penggerak utama usaha ini adalah para  pengemudi-nya.

Selain berfungsi utama sebagai driver, pengemudi juga menjalankan  fungsi sebagai customer service dan sales force, karena mau tidak mau, para pengemudi  inilah yang akan berhadapan langsung dengan penumpang / customer. Para pengemudi  di Blue Bird dilatih secara khusus dalam berbagai tahapan training. Dari para pengemudi inilah image Blue Bird dibangun. Sehingga tidak heran bila masyarakat  mengenal Blue Bird karena para pengemudinya yang baik dan jujur.

BAB 4
PENUTUP

5. 1.      Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, maka penulis mampu menyimpulkan bahwa bersama dengan makalah “Implementasi Sistem Informasi Manajemen dalam Perusahaan” menyimpulkan bahwa Kinerja Perusahaan mampu meningkat secara drastis apabila menerapkan sistem aplikasi perusahaan atau biasa disebut ERP (Enterprise Resource Planning) yang dimana ada banyak sekali aplikasi ERP dan salah satunya adalah aplikasi SAP yang diterapkan oleh Blue Bird. Kinerja ERP yang berjalan secara otomatis, terkontrol, terstruktur, terklasifikasi, dan terintegrasi mampu meningkatkan kinerja perusahaan yang sebelumnya bergerak secara manual. Modul-modul dalam SAP yang terklasifikasi mampu memudahkan user dalam menjalankan sistem perusahaan.

4. 2.   Saran

Demikianlah pokok bahasan “Implementasi Sistem Informasi Manajemen dalam Perusahaan” ini yang dapat kami paparkan, besar harapan kami makalah ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akna datang.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber Internet :


Sunday, December 2, 2018

level manajemen dalam sebuah struktur perusahaan



















sumber : https://www.slideshare.net/reskaazis/manajer-dan-contoh-dalam-perusahaan-nike

review artikel tentang sistem informasi manajemen














sumber : https://indrayosua.blogspot.com/2013/01/tugas-softskill-sistem-informasi_9.html?showComment=1543797658273#c3744280992125865032 

Wednesday, November 15, 2017

1. Pengertian Keputusan

Pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi individu maupun organisasi. Mengambil keputusan kadang-kadang mudah tetapi lebih sering sulit sekali. Kemudahan atau kesulitan mengambil keputusan tergantung pada banyaknya alternatif yang tersedia. Semakin banyak alternatif yang tersedia, kita akan semakin sulit mengambil keputusan. Keputusan yang diambil memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Ada keputusan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap organisasi, tetapi ada keputusan yang dapat menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu, hendaknya mengambil keputusan dengan hati-hati dan bijaksana.
Keputusan adalah sesuatu pilihan yang diambil diantara satu atau lebih pilihan yang tersedia.
2. Jenis-Jenis Keputusan

Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan. 
Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.
Pengambilan keputusan berdasrkan metode ada 2, yaitu tradisional dan modern. Pengambilan keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin dan tidak rutin.
3. Tingkat Pengambilan Keputusan

Banyak jenis keputusan yang berbeda harus dibuat dalam organisasi. Seperti bagaimana membuat suatu produk, bagaimana memelihara mesin, bagaimana menjamin kualitas produk dan bagaimana membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan.
Dengan keputusan yang berbeda ini, beberapa tipe dasar pemikiran harus dikembangkan untuk menetapkan siapa saja yang memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan dalam organisasi.
Pemikiran tersebut didasarkan pada dua faktor berikut :
Sejauh mana keputusan yang diambil akan mempengaruhi pihak lain.
Tingkat manajemen.
Keputusan yang diambil mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap organisasi secara umum, tetapi bisa saja sebaliknya. Semakin banyak pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi tersebut, semakin vital keputusan tersebut. Tingkatan pada manajemen menuntuk pada manajemen tingkat bawah, menengah, dan atas. Dasar pemikiran untuk menentukan siapa yang akan mengambil keputusan adalah semakin besar pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi (yang artinya semakin vital keputusan tersebut) maka semakin tinggi tingkatan manajer yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan tersebut.
Walaupun seseorang wirausahawan memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan tertentu, tidak berarti ketika mengambil keputusan tidak membutuhkan bantuan orang lain, terutama anggota organisasinya.
Ada sebuah cara yang disebut “konsensus” yang biasa digunakan wirausahawan untuk mendorong anggota organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan tertentu. Konsensus adalah persetujuan dalam pengambilan keputusan oleh semua individu yang terlibat didalamnya. Konsensus biasanya terjadi setelah pertimbangan dan pembahasan mendalam yang lama oleh anggota-anggota dari kelompok yang mengambil keputusan.
Keputusan melalui konsensus memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihannya : Seorang wirausaha dapat lebih memanfaatkan perhatian pada konsep, sementara anggota organisasi lainnya mengembangkan konsep dasar tersebut menjadi sebuah keputusan konkrit dan dapat diambil.
Kekurangannya : terlalu banyak orang yang dilibatkan, amak pengambilan keputusan memakan waktu yang relatif lama dan biayanya yang relatif mahal.
4. Proses pengambilan keputusan

Proses pengambilan keputusan didefinisikan sebagai langkah yang diambil oleh pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah sistematis yang harus dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah sebgai berikut :
Mengidentifikasi atau mengenali masalah yang dihadapi
Mencari alternatif perusahaan bagi masalah yang dihadapi
Memilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk memecahkan masalah
Melaksanakan alternatif tersebut
Mengevaluasi apakah alternatif yang dilaksanakan berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut ini merupakan penjabaran proses pengambilan keputusan.
A. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada dasarnya adalah proses pemecahan masalah yang menghalangi atau menghambat tercapainya tujuan. Agar masalah dapat dipecahkan, terlebih dahulu harus dikenali apa masalahnya.
B. Mencari alternatif pemecahan
Setelah masalh dikenali maka dapat dilakukan pencarian terhadap alternatif-alrternatif yang mungkin dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam mencari alternatif hendaknya tidak mamikirkan masalah efisiensi dan efektifitas. Ynag terpenting adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alternatif. Setelah alternatif terkumpul, barulah disusun berurutan dari yang paling diinginkan sampai yang tidak diinginkan.
C. Memilih alternatif
Setelah alternatif tersusun, barulah dapat dilakukan pilihan alternatif yang dapat memberikan manfaat, dalam arti dapat memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif dan efisien. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah alternatif, ajukan pertanyaan untuk tiap-tiap alternatif.
D. Pelaksanaan alternatif
Setelah alternatif dipilih, tibalah saatnya melaksanakannya ke dalam bentuk tindakan. pelaksanaan harus sesuai denga rencana, agar tujuan memecahkan masalh dapat tercapai.
E. Evaluasi
Setelah alternatif dilaksanakan, bukan berarti proses pengambilan keputusan telah selesai. Pelaksanaan alternatif harus terus diamati, apakah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila langkah-langkah pelaksanaan telah dilakukan dengan benar tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal, sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali pemilihan alternatif lainnya. Tidak maksimalnya hasil yang dicapai mungkin terjadi karena pengaruh negatif potensial benar-benar terjadi, atau mungkin pengaruh negatif yang tadinya tidak diperkirakan. 
Langkah proses pengambilan keputusan ada 5, yaitu identifikasi masalah, mencari alternatif pemecahan, pelaksanaan alternatif, dan evaluasi.
CONTOH KASUS PENGAMBILAN KEPUTUSAN :
Kasus Kekecewaan Pelenggan Perusahaan Apple Terhadap Penurunan Harga Iphone
Pada tanggal 5 Septembe 2007, Steve Jobs, CEO Perusahaan Apple melakukan praktek diskriminasi harga sebagai strategi pemasarannya yaitu menurunkan harga product iPhone mereka yang sangat sukses sejumlah $200 dari harga semula sebesar $599 yang merupakan harga perkenalan yang sudah sejak dua bulan. Tak perlu  dibicarakan, dia menerima email yang sangat banyak dari para pelanggan yang kecewa dan marah. Dua hari kemudian,  Steve Jobs menawarkan $100 kredit yang dapat di gunakan di toko Apple dan online store kepada para pelanggan yang sudah membayar harga penuh.
ANALISA :
Dalam pengambilan keputusan, eksekutif maupun CEO suatu perusahaan perlu mempertimbangkan pendekatan etis pengambilan keputusan yaitu:
1. Consequences, Utility
2. Duty, Rights, Justice
3. Virtue Expectations
Jika dijabarkan ketiganya, dapat dikatakan pertimbangan-pertimbangan dari ketiga pendekatan antara lain:
- Well-offness/ Consequentialism
Keputusan yang akan dibuat harus menghasilkan keuntungan lebih dari biaya yang dikeluarkan. Dalam kasus Apple, tidak jelas apakah keputusan pengurangan harga menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari biaya yang dikeluarkan atau sebaliknya.
PENDAPAT KETERLIBATAN BAWAHAN TERHADAP KEPUTUSAN 
Berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, para anggota kelompok secara individudal lebih termotivasi untuk melaksanakan keputus-an.
Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelompok.

sumber :
 http://rendigooners.blogspot.co.id/2013/11/24-keterlibatan-bawahan-dalam-pembuatan.htmlhttp://nuugraahaailsa.blogspot.co.id/2012/10/tipe-tipe-pengambilan-keputusan.html